JURNALKITAPLUS — Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih rendahnya investasi Indonesia di bidang riset dan pengembangan sains serta teknologi. Kondisi tersebut dinilai perlu segera dikoreksi agar Indonesia tidak terus menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi negara yang menciptakan dan menguasai teknologi sendiri.
Prabowo menyampaikan hal itu saat menerima jajaran pimpinan dan sekitar 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo melihat langsung berbagai hasil penelitian dan inovasi yang ditampilkan BRIN. Sebanyak 15 stan memamerkan hasil riset, antara lain inovasi pangan lokal, teknologi pengolahan air laut menjadi air minum, hingga pembuatan genteng berbahan serabut kelapa.
Prabowo mengatakan, penguasaan sains dan teknologi merupakan bagian penting untuk meningkatkan kemandirian Indonesia. Karena itu, pemerintah harus memperbesar investasi pada penelitian dan pengembangan.
Menurut dia, rendahnya investasi riset merupakan persoalan yang harus dikoreksi secara serius.
“Investasi kita di bidang research and development sangat sedikit, jauh dari yang seharusnya. Ini koreksi kita.”
Selain anggaran riset, Prabowo menilai kualitas pendidikan nasional juga menjadi persoalan mendasar. Pendidikan, kata dia, merupakan fondasi utama untuk melahirkan sumber daya manusia yang mampu melakukan penelitian, inovasi, dan menciptakan teknologi baru.
Prabowo menyinggung hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 81 negara.
Posisi tersebut masih berada di bawah sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Meski demikian, Prabowo meminta kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk berkecil hati. Pemerintah, menurut dia, harus menjadikannya sebagai dorongan untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperbaiki kondisi fisik sekolah sekaligus membangun sekolah unggulan dengan kurikulum berstandar internasional.
Pemerintah juga berupaya memperbesar kesempatan pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi terbaik dunia. Salah satu caranya melalui kerja sama untuk menghadirkan kampus-kampus terbaik dunia di Indonesia.
Fokus pada teknologi strategis
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyusun peta jalan Agenda Riset Strategis Nasional 2026-2045.
Peta jalan tersebut diharapkan menjadi acuan bersama agar kegiatan penelitian nasional tidak berjalan sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan masing-masing lembaga.
Agenda riset itu diarahkan agar selaras dengan rencana pembangunan nasional, Astacita, dan berbagai program prioritas pemerintah.
Arif mengatakan BRIN akan memberikan perhatian khusus pada pengembangan teknologi maju. Salah satunya semikonduktor untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap cip dari luar negeri.
Pengembangan kecerdasan buatan juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas nasional. Selain itu, BRIN mengembangkan teknologi genomika untuk mendukung produksi benih, obat-obatan, dan pengembangan bioindustri nasional.
Teknologi kuantum juga menjadi salah satu fokus untuk mendukung kebutuhan keamanan dan komputasi masa depan.
BRIN turut mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa yang dinilai dapat menjadi pengungkit bagi kedaulatan energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah Indonesia.
Menurut Arif, penguasaan teknologi strategis tersebut akan menentukan posisi Indonesia di masa depan.
Indonesia, kata dia, tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi yang diciptakan negara lain. Penguasaan teknologi harus diarahkan agar Indonesia mampu menjadi pemilik dan pengembang teknologi sendiri.











