JURNALKITAPLUS – Pemerintah tengah menyiapkan skema baru dalam pengelolaan kepemilikan saham Indonesia pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Kepemilikan saham yang selama ini berada di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan dialihkan ke Kementerian Keuangan melalui sebuah Special Mission Vehicle (SMV) yang masih dalam tahap pembahasan.
Langkah tersebut ditempuh untuk menata kembali struktur pengelolaan proyek strategis nasional itu sekaligus memastikan kewajiban pembiayaan Whoosh tidak secara otomatis menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro mengatakan hingga kini pemerintah belum menetapkan SMV yang akan menerima pengalihan saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Menurutnya, pembahasan masih berlangsung antara Kementerian Keuangan dan Danantara guna menentukan lembaga yang paling tepat untuk mengelola aset tersebut.
Senada dengan itu, Corporate Secretary PT KCIC Eva Chairunisa menyebut proses koordinasi masih berjalan. KCIC saat ini diminta menyiapkan berbagai data dan informasi sebagai bagian dari proses pengalihan kepemilikan saham.
Meski proses restrukturisasi berlangsung, Eva memastikan operasional Whoosh tetap berjalan normal. Sejak mulai beroperasi pada Oktober 2023 hingga akhir Juli 2026, layanan kereta cepat tersebut telah melayani lebih dari 16,9 juta penumpang.
Pemerintah Tegaskan Tak Membebani APBN
Kesepakatan pengalihan saham dicapai dalam pertemuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria. Pemerintah menargetkan proses pengalihan selesai pada pertengahan September 2026.
Purbaya menegaskan saham Indonesia di KCIC nantinya akan ditempatkan pada salah satu SMV di bawah Kementerian Keuangan. Namun, mekanisme tersebut tidak berarti seluruh kewajiban pembiayaan proyek Whoosh akan langsung ditanggung APBN.
Saat ini Indonesia menguasai 60 persen saham KCIC melalui konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang beranggotakan PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Sementara 40 persen saham lainnya dimiliki Beijing Yawan HSR Co Ltd.
Dengan pengalihan tersebut, kepemilikan saham Indonesia tidak lagi berada di bawah PSBI. Selanjutnya, pengelolaan saham beserta kewajiban proyek akan dialihkan kepada SMV yang ditunjuk Kementerian Keuangan.
Beban Keuangan Jadi Pertimbangan
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai keputusan tersebut menunjukkan pemerintah berupaya mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung konsorsium BUMN.
Menurutnya, apabila pengelolaan tetap berada di PSBI, risiko terbesar akan ditanggung PT KAI sebagai pemegang saham terbesar konsorsium tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan KAI hingga 30 Juni 2026, total kerugian PSBI telah mencapai Rp5,13 triliun, lebih tinggi dibandingkan kerugian sepanjang 2025 yang sebesar Rp4,99 triliun. Dari jumlah itu, porsi kerugian yang ditanggung KAI mencapai sekitar Rp3,01 triliun.
Selain itu, kondisi keuangan PSBI juga mengalami tekanan dengan nilai aset sekitar Rp21,43 triliun, sedangkan liabilitasnya mencapai Rp21,55 triliun, sehingga ekuitas perusahaan berada pada posisi negatif.
Tata Kelola Masih Menjadi Tantangan
Meski pengalihan saham dinilai dapat meringankan beban BUMN, Herry mengingatkan pemerintah tetap menghadapi tantangan baru, terutama dari sisi tata kelola dan pengelolaan fiskal.
Menurutnya, pemerintah kemungkinan tetap perlu menyiapkan dana cadangan untuk memastikan kewajiban proyek dapat dipenuhi apabila diperlukan. Selain itu, diperlukan kepastian regulasi mengenai posisi SMV dalam struktur pengelolaan aset negara dan hubungannya dengan Danantara.
Ia menilai keputusan tersebut menandai perubahan pendekatan pemerintah terhadap proyek Whoosh, dari yang semula menjadi tanggung jawab korporasi BUMN menjadi bagian dari kebijakan fiskal yang memerlukan pengawasan lebih ketat.
Sumber: Diolah dan ditulis ulang dari laporan CNN Indonesia











