Membaca Pikiran Anda

PMKB Jajaki Kerjasama dengan PHRI Kabupaten Bandung

Baleendah 7 Oktober 2026, bertempat di wisata Kampung Batu Malakasari, Jl. Raya Banjaran (Rencong), Rancabungur, Malakasari, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Paguyuban Maggot Kabupaten Bandung (PMKB), di daulat oleh PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), menjadi narasumber tentang tatakelola sampah yang baik dan benar menurut etika dan estetika lingkungan serta menurut regulasi pemerintah dalam hal ini perda maupun Undang-Undang lebih jauhnya.

Dihadiri tidak kurang dari 30han perwakilan PHRI se-Kabupaten Bandung, di resto area Kampung Batu Malakasari, dalam suasana hangat serius tapi santai. PHRI rutin menggelar kegiatan serupa sebulan sekali, untuk mempererat jalinan shilaturahmi diantara pengurus dan seluruh anggotanya. Kegiatan kali ini di Kampung Batu Malakasari merupakan kegiatan Rakoris PHRI ke-16, bertajuk “Membangun Kebersamaan Usaha yang Berkesinambungan.”

Sementara itu PMKB hadir membersamai kegiatan PHRI ini dalam rangka memberikan warna baru dalam kegiatan-kegiatan serupa yang rutin di gelar oleh PHRI setiap bulannya, sharing berbagi pengalaman dan diskusi tentang bagaimana mengelola menangani sampah yang baik, bajik dan bijak sesuai etika dan estetika lingkungan, khususnya penanganan sampah organik yang memang banyak dihasilkan oleh restoran dan hotel dalam hal ini.

Dalam pemaparan yang disampaikan langsung oleh ketuanya, Nana Mulyana, PMKB menyampaikan tentang permasalahan sampah secara umum, khususnya di Kabupaten Bandung saat ini, sampai yang dihasilkan setiap harinya sekitar 600 ton, sementara yang tertangani oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hanya kisaran 150 sampai 200 ton tiap harinya, sehingga 400 ton masih menjadi PR bersama bagaimana cara menyelesaikannya.

“Sampah domestik di Kabupaten Bandung setiap harinya tidak kurang dari 600 ton, sementara kemampuan DLH baru bisa menangani 200 ton, sehingga 400 ton lagi masih jadi dilema, karena masalah pembatasan kuota di TPA Sarimukti,” terang Nana. Kemudian Ustadz Nana melanjutkan, “Perhitungan 600 ton ini mengacu pada jumlah warga Kabupaten Bandung, belum termasuk hotel, restoran, dan kawasan-kawasan khusus seperti rumah sakit, pabrik dan lainnya, jika dihitung semua bisa lebih dari 600 ton, maka pantas sekali banyak kita temukan gundukan-gundukan sampah liar yang tidak bertuan di ruas-ruas jalan sepi, kemudian diviralkan di medsos oleh warga, sehingga membuat kalangkabut dinas terkait bahkan sampai pada pemerintah daerah pun tak luput dari masalah sampah ini,” pungkas Nana.

Langkah yang bijak untuk menangani masalah sampah ini, khususnya bagi hotel dan trestoran dibawah koordinasi PHRI, adalah dengan mengolah sampah dari sumbernya. Sampah domestic hotel dan restoran khususnya yang organic diselesaikan dengan bio komversi Maggot, di hotel dan restoran masing-masing sebagai penghasil sampah tersebut, sehingga tidak akan terjadi penumpukan dimana-mana karena permasalahan kuota dibatasi. PMKB dalam hal  ini siap membangun sinergitas yang baik, berkolaborasi dengan PHRI Kabupaten Bandung, bekerja bersama-sama, menginisiasi membuat tempat pengolahan sampah domestic hotel dan rumah makan dilokasinya masing-masing. PMKB berkomitmen untuk membantu memfasilitasi baik secara edukasi melalui bimtek, maupun secara tekhnis langsung berdasarkan pengalaman untuk membangun instalasi penanganan sampah organic khususnya melalui bio komversi Maggot.

Hal ini disamput baik dan antusias oleh PHRI dalam acara tersebut, terlihat dari banyaknya peserta yang menyampaikan pertanyaan dalam sesi diskusi. Salah satu peserta yang bertanya adalah Nono Sambas, owner rumah makan Riung Panyawungan, Ciherang Cangkuang, dia menyampaikan, “Saya tidak akan bertanya tentang materi hari ini, karena ini mah hanya teori, tapi saya meminta langsung, kapan bapak-bapak pemateri dari PMKB bisa datang ke tempat saya ke resto, supaya bisa melihat langsung seperti apa sampah yang ada di rumah makan kita, dan bagaimana solusi menyelesaikannya yang baik dan benar ?” imbuh Nono. Langsung dijawab oleh pihak PMKB, siap dalam waktu dekat akan berkunjung melihat kondisinya seperti apa, dan akan langsung eksekusi dengan penanganan yang sesuai dengan yang seharusnya.

Sementara itu disela sela sesi diskusi JKP berhasil mewawancarai Aswin, salah satu manajemen tempat kegiatan PHRI di gelar, yaitu manajemen wisata Kampung Batu Malakasari, dia menyampaikan pada JKP, “Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini, bisa mendapatkan pencerahan dari tim Magnet Rezeki, kemudian dari tim penanganan sampah PMKB yang begitu concern pada penyelesaian dan solusi pengolahan sampah khususnya sampah organik dengan bio komversi Maggot, saya pun pernah melakukannya,” terang aswin dengan jujur, kemudian beliau melanjutkan, “Penanganan sampah ini memang tidak sesederhana yang dilihat, butuh perjuangan dan yang terutama adalah kesadaran, masalah sampah adalah masalah kita semua, jika tidak berangkat dari kesadaran, tidak akan pernah selesai, contoh kecil di rumah saya sudah tidak ada lagi sampah bekas nasi sebutir nasi pun, karena untuk mendapatkan nasi yang bisa kita makan ini butuh perjuangan yang panjang, sehingga ketika kita siasiakan, sungguh dzalimlah kita, jika ada satu butir nasi saja tersisa di piring di rumah saya siapapun akan kena sangsi dari istri saya, inilah komitmen keluarga saya,” pungkas Aswin.

Rangkaian kegiatan PHRI ini dipandu oleh moderator yang enerjik, dan humoris H. Hera Mulyantara, sehingga acara berlangsung dengan seru, hangat dan yang pasti sukses menyenangkan untuk semua peserta yang hadir. | DS.10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *