Membaca Pikiran Anda

Bukan Salmon, Ikan Sidat Indonesia Ternyata Kaya Omega-3

Jurnalkitaplus – Ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia dinilai memiliki kandungan gizi tinggi, terutama asam lemak Omega-3. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, menyebut nilai gizi sidat bahkan melampaui sejumlah ikan yang selama ini dikenal sebagai sumber utama Omega-3, termasuk salmon.

Kandungan DHA dan EPA tinggi

Gadis mengatakan sidat mengandung dua komponen utama Omega-3, yakni DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan dalam perkembangan serta fungsi otak, sedangkan EPA berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan jantung dan membantu menekan peradangan.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi. Ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis dalam pernyataan di Jakarta, dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu, 4 Oktober 2026.

Selain Omega-3, ikan sidat juga memiliki kandungan vitamin A, vitamin B kompleks, protein, zat besi, fosfor, serta kalori. Beragam nutrisi tersebut membuat sidat berpotensi dikembangkan sebagai salah satu sumber protein hewani dan pangan bergizi bagi masyarakat.

Potensi ekonomi perikanan

Ketersediaan sidat di berbagai wilayah perairan Indonesia menjadi modal penting bagi pengembangan komoditas perikanan bernilai ekonomi. Sidat tidak hanya berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai produk perikanan unggulan.

Namun, BRIN mengingatkan pemanfaatan sidat harus disertai pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Pengambilan sidat dari alam perlu didasarkan pada kajian ilmiah agar tidak menimbulkan penangkapan berlebih yang dapat mengancam keberadaan populasinya.

Pengelolaan tersebut penting, terutama karena sidat memiliki siklus hidup yang panjang dan khas, serta bergantung pada kondisi ekosistem laut, muara, dan sungai.

Siklus hidup unik

Sidat termasuk ikan dengan pola hidup katadromus. Artinya, ikan ini menghabiskan sebagian besar fase pertumbuhannya di perairan tawar, tetapi berkembang biak dan menetas di laut.

Pada awal kehidupannya, sidat menetas di laut sebagai larva yang disebut leptocephalus. Larva ini berbentuk pipih, transparan, menyerupai daun, serta belum memiliki kemampuan berenang yang kuat.

“Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik. Memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” ujar Gadis.

Larva sidat kemudian bermigrasi dari laut dalam menuju estuari atau muara sungai, yaitu wilayah percampuran air tawar dan air laut. Dalam perjalanan tersebut, larva berubah menjadi sidat kaca atau glass eel.

Perlu dijaga keberlanjutannya

Potensi nutrisi dan nilai ekonomi sidat membuka peluang besar bagi sektor pangan dan perikanan nasional. Namun, pemanfaatannya perlu diimbangi dengan perlindungan habitat, pengendalian penangkapan, serta riset mengenai populasi dan budidaya.

Dengan pengelolaan yang tepat, sidat dapat menjadi sumber pangan lokal bergizi tinggi sekaligus komoditas perikanan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian populasinya. | FG12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *