Jurnalkitaplus — Penanganan gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) memasuki tahap penting. Presiden Prabowo Subianto tiba di wilayah terdampak pada Rabu (26/8/2026) dan langsung memimpin rapat penanganan bencana.
Rapat tersebut digelar di tengah kondisi darurat, bahkan berlangsung di dalam tenda. Situasi ini menggambarkan bahwa pemerintah memilih mendekatkan proses pengambilan keputusan dengan kondisi lapangan dan masyarakat yang terdampak.
Kedatangan Prabowo menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan gempa tidak berhenti pada rapat koordinasi di tingkat pusat. Sejumlah kebutuhan di lapangan perlu segera dipetakan, mulai dari pelayanan kesehatan, tempat pengungsian, distribusi bantuan, hingga pemulihan infrastruktur.
Gempa magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah Flores, NTT. Dampaknya cukup luas. Data yang dihimpun Kompas.com sebelumnya menyebut puluhan ribu warga harus mengungsi dan sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan.
Rapat di Tenda, Pesan Pemerintah untuk Korban
Pilihan menggelar rapat di dalam tenda menjadi sisi menarik dari kunjungan Presiden kali ini.
Dalam kondisi bencana, fasilitas pemerintahan tentu tidak menjadi prioritas. Yang lebih mendesak adalah memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi dan jalur bantuan tetap berjalan.
Sebelumnya, pemerintah telah mengerahkan berbagai kementerian dan lembaga untuk menangani dampak gempa. Kementerian Pekerjaan Umum, misalnya, bergerak membuka kembali akses jalan yang terdampak longsor dan kerusakan akibat gempa.
Sembilan ruas jalan nasional yang terdampak dilaporkan telah kembali berfungsi, sementara penanganan dilakukan terhadap puluhan titik longsor. Pemulihan akses menjadi penting karena jalan merupakan jalur utama distribusi bantuan dan mobilitas tim penyelamat.
Bukan Hanya Soal Bantuan
Persoalan yang dihadapi warga Flores setelah gempa tidak berhenti pada kebutuhan makanan dan tempat tinggal sementara.
Layanan kesehatan juga menjadi tantangan. Sejumlah tenaga medis dan organisasi kemanusiaan telah diterjunkan ke wilayah terdampak. Muhammadiyah, misalnya, mengirim tim kesehatan, relawan, logistik, hingga Emergency Medical Team (EMT) untuk membantu masyarakat.
Bahkan, kondisi di sejumlah wilayah membuat tenaga kesehatan harus bekerja dengan keterbatasan personel dan fasilitas. Sebelumnya, seorang dokter di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, sempat mendapat perhatian setelah muncul informasi mengenai banyaknya pasien yang harus ditangani dengan jumlah tenaga kesehatan terbatas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan lebih dari sekadar distribusi bantuan. Pemerintah harus memastikan pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi, transportasi, serta dukungan psikososial berjalan secara bersamaan.
Tantangan Setelah Masa Darurat
Kunjungan Prabowo ke NTT juga menjadi momentum untuk melihat persoalan yang akan muncul setelah fase tanggap darurat berakhir.
Kerusakan rumah, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, jaringan air bersih, jalan dan infrastruktur lainnya membutuhkan proses pemulihan yang tidak singkat.
Kementerian PU sebelumnya mencatat ribuan rumah serta ratusan fasilitas publik terdampak gempa. Pemerintah juga mulai memperbaiki jaringan air bersih yang rusak dan memulihkan akses transportasi di sejumlah wilayah.
Karena itu, rapat penanganan bencana di tengah kondisi lapangan bukan hanya menentukan respons hari ini. Keputusan yang diambil juga akan menentukan seberapa cepat masyarakat Flores dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Pemerintah Diuji di Tengah Bencana
Kehadiran Presiden di lokasi bencana tentu memiliki nilai simbolik. Namun, ukuran keberhasilannya bukan sekadar kunjungan atau rapat di tenda.
Yang paling menentukan adalah apa yang terjadi setelah rapat selesai: apakah bantuan benar-benar sampai kepada warga, apakah korban memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, apakah akses yang terputus segera dibuka, dan apakah proses pemulihan berjalan transparan serta terkoordinasi.
Bagi masyarakat NTT, penanganan gempa kini bukan hanya soal bertahan menghadapi bencana, tetapi juga memastikan proses pemulihan berlangsung cepat dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang berada di wilayah terpencil. | FG12











