Jurnalkitaplus – Perjuangan kontingen Indonesia pada Asian Para Games 2026 di Nagoya membuktikan bahwa tekad dan semangat juang yang tinggi mampu meruntuhkan berbagai batas. Di tengah keterbatasan masa pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang hanya diberikan selama tiga bulan oleh pemerintah, para atlet nasional justru tampil luar biasa dan sukses melampaui target awal secara signifikan dengan mengumpulkan 14 medali emas, 20 perak, dan 37 perunggu hingga Jumat malam, 23 Oktober 2026.
Keterbatasan durasi persiapan yang dinilai belum optimal untuk menggembleng kondisi fisik secara maksimal tidak menyurutkan mentalitas bertanding 103 atlet dari 12 cabang olahraga. Dukungan penuh masyarakat Indonesia baik di Tanah Air maupun langsung di Jepang menjadi bahan bakar moril yang menjaga motivasi para pahlawan olahraga tetap membara demi mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Keberhasilan ini sekaligus menyoroti lahirnya gelombang regenerasi yang gemilang melalui aksi para atlet muda dan debutan. Sebut saja I Kadek Dwi Purwana Yasa yang baru berusia 18 tahun berhasil menyabet emas lempar cakram F57 sekaligus mempertajam catatan dunia, serta perenang muda Abdil Majid Rahman yang sukses mempersembahkan medali emas di usia 17 tahun. Apresiasi turut disampaikan oleh atlet senior Jendi Pangabean yang melihat kemunculan talenta-talenta muda ini sebagai fondasi masa depan olahraga disabilitas Indonesia.
Melihat prestasi luar biasa yang diraih di tengah segala keterbatasan tersebut, Chef de Mission (CdM) Reda Manthovani mendorong pemerintah, khususnya Kemenpora, untuk memperpanjang durasi Pelatnas menjadi minimal enam bulan ke depan. Langkah strategis ini sangat krusial sebagai investasi jangka panjang guna menjaga konsistensi fisik dan mental para atlet, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan yang lebih besar pada ASEAN Para Games 2027 di Kuala Lumpur serta Paralimpiade Los Angeles 2028 | FG12
.











