Jurnalkitaplus — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerapkan terobosan baru dalam penanggulangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memanfaatkan teknologi dry ice (es kering). Metode yang berbeda dari penyemaian awan konvensional ini mulai diuji coba secara masif sejak pertengahan Oktober 2026 di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah guna mengurai pekatnya polusi udara.
Mekanisme Kerja: Membongkar ‘Tutup’ Lapisan Inversi
Selama peristiwa karhutla berlangsung, asap pekat kerap terperangkap di dekat permukaan tanah hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki akibat fenomena lapisan inversi atmosfer. Pada kondisi inversi, lapisan udara di atas bersuhu lebih hangat dibanding udara di bawahnya, sehingga bertindak layaknya “tutup” yang mengunci pergerakan udara vertikal dan memicu penumpukan asap berbahaya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, operasi udara diluncurkan menggunakan pesawat TNI AU, BMKG, atau BNPB dengan menaburkan pelet dry ice tepat di atas lapisan inversi. Dry ice yang merupakan karbon dioksida padat (CO₂) bersuhu ekstrem sekitar -78,5°C langsung menyublim menjadi gas dan menyerap panas lingkungan secara cepat. Pendinginan mendadak ini merusak kestabilan lapisan inversi, membuka kembali aliran konveksi, serta memungkinkan asap tebal membubung ke atmosfer yang lebih tinggi hingga konsentrasi polutan di darat berkurang drastis.
Pendekatan ini berbeda signifikan dari teknik modifikasi cuaca biasa. Penyemaian garam (NaCl) umumnya ditujukan langsung pada awan yang telah terbentuk untuk mempercepat curah hujan. Sebaliknya, dry ice diprioritaskan untuk “membongkar” perangkap asap saat kondisi langit kering dan minim potensi awan. Terbukanya sirkulasi udara juga memicu peluang pertumbuhan awan baru yang nantinya dapat disemai kembali dengan garam untuk menghasilkan hujan buatan.
Jarak Pandang Melonjak di Palembang dan Kalimantan Tengah
Efektivitas operasi ini dipantau BMKG melalui dua parameter utama, yakni peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5.
- Palembang & Sumatera Selatan: Sejak uji coba dimulai pada 15 Oktober 2026, jarak pandang tercatat melonjak signifikan dari semula hanya 300 meter menjadi 2.800 meter, bahkan sempat menyentuh 7.000 meter. Tingkat polutan PM2.5/ISPU pun berhasil ditekan dari level berbahaya (sekitar 600) turun mendekati level sedang (sekitar 200). Karena durasi efek perbaikan ini bertahan sekitar 3 hingga 5 jam, penerbangan dilakukan rutin dua kali sehari, yakni pada siang dan sore hari.
- Kalimantan Tengah: Peningkatan jarak pandang juga dilaporkan di Pangkalan TNI AU Iskandar, dari 200 meter menjadi 2.500 meter per 22 Oktober 2026.
- Kombinasi Hujan Buatan: Kolaborasi pembongkaran inversi menggunakan dry ice yang dilanjutkan dengan penyemaian garam terbukti memicu hujan intensif di sejumlah titik di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Bukan Pemadam Api Langsung, Evaluasi Masih Berjalan
Kendati menunjukkan indikasi positif, Kementerian Kehutanan mencatat tingkat keberhasilan evaluasi di Sumatera Selatan saat ini berada di angka sekitar 40 persen. BMKG dan BNPB mengingatkan bahwa metode ini masih bersifat sementara dan situasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut menggarisbawahi bahwa efektivitas teknik ini sangat bergantung pada dinamika cuaca riil—seperti kelembapan, kecepatan angin, dan ketebalan lapisan atmosfer—serta mekanismenya masih terus diuji sebagai hipotesis ilmiah.
Para pihak menegaskan bahwa dry ice tidak memadamkan api secara langsung, melainkan berfungsi strategis membuka ruang pandang bagi operasi udara seperti patroli dan pengeboman air (water bombing). Dengan demikian, pemadaman langsung oleh tim darat tetap memegang peranan paling krusial dalam menuntaskan akar persoalan karhutla. | FG12











