Jurnalkitaplus — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara melancarkan serangkaian serangan dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi terbaru tidak hanya memperbesar risiko konflik terbuka di kawasan Timur Tengah, tetapi juga semakin mempersempit peluang tercapainya kesepakatan damai.
Amerika Serikat melalui Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang sejumlah aset dan fasilitas milik Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 1 September 2026.
Sasaran serangan disebut meliputi fasilitas radar, artileri pertahanan udara, sistem penebar ranjau laut, hingga fasilitas komunikasi. Washington menyebut serangan tersebut sebagai respons atas aktivitas IRGC terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump kemudian membenarkan serangan terhadap radar Iran. Menurut dia, militer AS sengaja menunggu hingga fasilitas radar Iran hampir selesai dibangun sebelum kembali menghancurkannya.
Di sisi lain, Teheran menuduh serangan AS turut menghantam kawasan sipil di Kuhestak, Provinsi Hormozgan. Iran menyebut sedikitnya lima orang tewas dan 68 lainnya terluka dalam serangan yang dikaitkan dengan pesta perkawinan.
Klaim tersebut menjadi bagian dari perang narasi yang semakin kuat di antara kedua negara. Iran menuding Washington melakukan serangan terhadap warga sipil, sementara AS membantah menjadikan masyarakat sipil sebagai sasaran.
Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengatakan pihaknya mengetahui tudingan tersebut dari pemberitaan media Iran. Ia menegaskan militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil.
Iran Balas Serangan di Kawasan
Ketegangan tidak berhenti setelah serangan AS. Media Iran melaporkan IRGC melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di kawasan Timur Tengah, termasuk wilayah Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Yordania menyatakan telah mencegat total 10 rudal Iran dalam dua gelombang serangan. Sementara itu, IRGC mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke pangkalan Korps Marinir AS di Yordania dan menyebut banyak personel Amerika tewas.
Namun, klaim mengenai jumlah korban dari serangan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan balasan Iran terjadi setelah Trump kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Teheran. Presiden AS itu memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan dengan skala dan intensitas lebih besar apabila konflik terus berlanjut.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington belum menunjukkan tanda-tanda mengurangi tekanan militernya terhadap Teheran.
Selat Hormuz Jadi Kunci Konflik
Di balik eskalasi terbaru, Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik AS-Iran.
Sebelumnya, Washington menuduh Iran bersiap menebarkan ranjau laut di jalur pelayaran tersebut. Amerika Serikat dan Inggris juga mengklaim mendeteksi serangan Iran terhadap kapal sipil.
Situasi itu kemudian dijadikan alasan oleh Washington untuk melancarkan serangan ke Iran pada 30 Agustus 2026. AS menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pembelaan diri.
Trump bahkan berulang kali mengklaim Amerika Serikat kini memiliki kendali hampir penuh atas Selat Hormuz.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan jalur tersebut masih menghadapi ketidakpastian. Sejumlah kapal niaga dan kapal sipil dilaporkan belum berani kembali melintas karena khawatir menjadi sasaran serangan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan memperkirakan nilai strategis Selat Hormuz dapat menurun dalam dua tahun mendatang. Washington bersama negara mitranya disebut tengah mengembangkan jalur alternatif untuk mengangkut minyak dan gas dari kawasan tersebut.
Diplomasi Terancam Gagal
Eskalasi militer ini menjadi pukulan bagi upaya diplomasi antara Washington dan Teheran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan kesiapan untuk kembali pada kesepakatan gencatan senjata. Namun, pernyataan Trump justru menunjukkan pendekatan Washington semakin berorientasi pada tekanan maksimal.
Trump mengatakan tidak mempermasalahkan apabila Iran menandatangani perjanjian yang menurutnya tidak memberikan keuntungan bagi Teheran. Ia juga mengklaim posisi Amerika Serikat saat ini jauh lebih kuat karena memiliki kendali terhadap Selat Hormuz.
Selain tekanan militer, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi melalui kebijakan yang disebut sebagai Economy D-Day.
Tekanan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Iran, tetapi juga negara-negara yang masih melakukan kerja sama bisnis dengan Teheran. Langkah ini dirancang untuk mempersempit ruang ekonomi Iran sekaligus memaksa pemerintah Iran kembali tunduk pada tuntutan Washington.
Namun, strategi tersebut berisiko menghasilkan efek sebaliknya.
Alih-alih membuka jalan menuju perundingan, tekanan militer dan ekonomi yang semakin kuat justru dapat membuat posisi kedua negara semakin sulit berkompromi.
Dengan serangan yang kembali terjadi, ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta perang sanksi yang terus meningkat, konflik AS-Iran kini tidak hanya menjadi persoalan kedua negara.
Stabilitas kawasan, keamanan pelayaran internasional, dan kelancaran pasokan energi global ikut berada dalam bayang-bayang eskalasi tersebut.
Jika jalur diplomasi tidak segera dibuka kembali, rangkaian serangan balasan berpotensi berkembang menjadi konflik yang jauh lebih luas dan semakin sulit dikendalikan. |FG12











