Membaca Pikiran Anda

Riset Ungkap Remaja Indonesia Alami Gangguan Fungsi Kognitif, Mengapa?

B425318e9be811fd5c9b01c30dbcc008deb842599c8308257d1efb8442ddc500
Picture1

Lebih lanjut, gangguan kesehatan mental berkaitan dengan kondisi, seperti kecemasan, depresi, dan kesulitan untuk meregulasi emosi, yang berdampak langsung pada kemampuan belajar, kontrol diri, pengambilan keputusan, dan relasi sosial.

Apa yang menyebabkan gangguan fungsi kognitif pada remaja?

Era digital mempercepat proses belajar, tetapi juga mempercepat disfungsi otak apabila digunakan secara bebas tanpa kendali, alias anak sampai lupa waktu dalam memanfaatkan teknologi.

Menurut dr. Suzy, paparan gadget (gawai) yang berlebihan, ditambah dengan perundungan daring dan tekanan sosial yang tinggi, menghambat perkembangan area otak depan (prefrontal cortex) sebagai pusat fungsi eksekutif

“Anak dan remaja yang belum matang fungsi eksekutifnya lebih mudah stres, marah, sulit fokus, dan kehilangan arah tujuan hidup. Ini bukan sekadar karakter, tapi kondisi biologis yang harus diintervensi lebih awal,” ujar dia.

Hasil riset

Berdasarkan latar belakang tersebut, PDSKJI melakukan riset nasional terhadap 624 remaja berusia 13-24 tahun di berbagai wilayah di Indonesia menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI).

AUFEI dikembangkan dan diadaptasi oleh PDSKJI sesuai konteks budaya Indonesia, serta mencakup lima domain, yaitu Working Memory, Inhibitory Control, Cognitive Flexibility, Planning and Organization, dan Spiritual Function.

Hasilnya, sebanyak 507 remaja belum berkembang secara optimal pada fungsi eksekutif, sedangkan 117 remaja telah berkembang dengan baik.

Lalu, sebanyak 39,8 persen masih memiliki working memory yang belum berkembang sehingga menyebabkan fokus mudah terpecah dan sulit menimbang konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.

Sementara itu, dalam inhibitory control, sekitar 32,7 persen masih kesulitan menahan impuls, yang menjelaskan mengapa banyak remaja mudah tersulut emosi dan bertindak tanpa berpikir panjang.

Selanjutnya, dalam domain cognitive flexibility, sebanyak 38 persen remaja berkembang dengan baik. Hanya saja, kemampuan beradaptasi ini belum diimbangi dengan kematangan dalam planning and organization.

Sebab, dalam domain planning and organization, sebanyak 65,5 persen remaja masih pada tahap mulai berkembang. Mereka tahu apa yang salah, tetapi belum mampu menyusun langkah untuk memperbaikinya.

Kemudian, 55,4 persen remaja menunjukkan spiritual functioning yang belum matang. Artinya, nilai, makna hidup, dan batas moral, belum terbentuk kuat untuk menjadi rem saat menghadapi tekanan sosial atau krisis eksistensial.

Temuan selanjutnya, gangguan fungsi eksekutif berkorelasi kuat dengan peningkatan depresi, perilaku impulsif, penurunan motivasi belajar, dan kecenderungan pada perundungan dan adiksi digital.

Apa yang bisa dilakukan?

Menurut dr. Suzy, apa yang bisa dilakukan adalah melakukan intervensi yang melibatkan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan.

Misalnya dengan skrining rutin fungsi eksekutif dan kesehatan mental di sekolah, guru dan orangtua mengenali tanda awal kesulitan regulasi emosi dan perilaku, serta akses mudah ke layanan kesehatan jiwa, seperti konsultasi dengan psikiater dan psikolog klinis.

Sumber :
Humas Pengurus Pusat PDSKJI
Kompas.com Kamis (30/10/2025).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *