Jurnalkitaplus – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, meminta publik tidak terpaku pada polemik istilah “Londo Ireng” yang diucapkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, perhatian sebaiknya diarahkan pada substansi pidato Presiden yang berisi berbagai agenda strategis pemerintah untuk kepentingan masyarakat.
Qodari menilai pidato Prabowo secara konsisten menyoroti upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, memperkuat ketahanan pangan dan energi, mendorong swasembada beras, hingga percepatan penggunaan bahan bakar B50. Ia juga menyinggung dimulainya kembali proyek Blok Masela setelah tertunda selama puluhan tahun, serta komitmen pemerintah menghentikan praktik under invoicing dan transfer pricing yang disebut merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Saat kembali ditanya mengenai penggunaan istilah “Londo Ireng”, Qodari tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Ia berulang kali mengajak awak media untuk melihat keseluruhan isi pidato Presiden, bukan hanya satu frasa yang memicu kontroversi.
Polemik tersebut bermula dari pidato Prabowo dalam peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta pada 23 Juli 2026. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut istilah “Londo Ireng” sebagai analogi bagi pihak-pihak yang dinilainya lebih mengabdi kepada kepentingan asing, lalu mengaitkannya dengan profesi seperti wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM. Pernyataan itu kemudian menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk organisasi pers, yang menilai penyebutan profesi secara umum berpotensi menimbulkan stigma. | FG12












