JKP — Partai Republik (GOP) tengah menggantungkan harapan besar menjelang pemilu tengah masa jabatan Amerika Serikat pada November 2026: bahwa survei-survei yang kini menempatkan Demokrat unggul ternyata keliru.
Sejumlah politisi dan strategis Republik mulai menantang hasil polling nasional yang menunjukkan Demokrat memimpin sekitar delapan poin dalam generic congressional ballot. Mereka berharap kesalahan pengukuran yang pernah terjadi pada pemilu 2016, 2020, dan 2024—ketika dukungan Donald Trump cenderung diremehkan survei—terulang kembali.
“Polling Akan Salah”
Ketua DPR AS Mike Johnson dan Senator Rick Scott menjadi salah satu figur GOP yang secara terbuka mempertanyakan akurasi polling. Argumen utama mereka adalah adanya nonresponse bias, yakni dugaan bahwa pemilih Republik lebih enggan merespons survei dibanding pemilih Demokrat, sehingga hasil survei dapat condong ke kubu Demokrat.
“Mereka tidak mengklaim GOP akan meraih malam pemilu yang gemilang,” tulis Politico dalam laporannya. “Namun, mereka berpegang pada kemungkinan bahwa hasil akhir bisa jauh lebih baik daripada yang diproyeksikan polling.”
Strategis senior GOP Karl Rove bahkan menilai, bila keunggulan Demokrat dalam survei memang terlalu tinggi, sejumlah kontes di Texas, Michigan, Maine, Alaska, dan Iowa dapat berada dalam margin of error—artinya hasil nyata bisa jauh lebih ketat.
Tren Politik Tetap Tidak Menguntungkan GOP
Meski demikian, harapan itu tidak sepenuhnya menutupi realitas politik yang dihadapi GOP. Rata-rata RealClearPolling menempatkan Demokrat unggul delapan poin, sementara survei AP-NORC menemukan mayoritas pemilih menilai Presiden Donald Trump gagal menangani persoalan domestik maupun luar negeri.
Survei tersebut juga menunjukkan sebagian besar pemilih menginginkan perubahan besar dalam pemilu tengah masa jabatan kali ini—sinyal yang secara historis berbahaya bagi partai penguasa.
Kondisi itu tercermin pula dalam langkah operasional GOP. Sejumlah laporan menyebut partai tersebut mulai menarik dana kampanye dari beberapa negara bagian dan distrik kunci, sebuah indikasi bahwa pihaknya sendiri tidak sepenuhnya yakin polling yang dipublikasikan keliru.
Ketidakpastian Komposisi Pemilih
Faktor yang membuat harapan GOP tidak sepenuhnya bisa diabaikan adalah ketidakpastian komposisi pemilih pada pemilu tengah masa jabatan. Tingkat partisipasi, antusiasme basis pendukung Trump yang kerap lebih rendah pada midterms, serta mobilisasi pemilih Demokrat dapat mengubah peta elektoral secara signifikan.
“Tidak ada yang tahu seperti apa wajah pemilih pada pemilu tengah masa jabatan kali ini,” demikian inti analisis yang dikutip Politico. “Itu membuat sulit memastikan apakah polling benar-benar akurat.”
Ujian Kredibilitas Polling
Bagi GOP, narasi “polling salah” berfungsi ganda: menjaga moral kader, mempertahankan dukungan donatur, dan menyiapkan bantahan bila hasil November ternyata lebih baik dari proyeksi.
Namun bagi pengamat politik, pertanyaan yang lebih besar justru terletak pada kredibilitas industri polling Amerika Serikat. Setelah serangkaian kesalahan besar pada beberapa siklus pemilu terakhir, pemilu 2026 berpotensi menjadi pengujian baru: apakah survei masih mampu menangkap preferensi pemilih di tengah meningkatnya keraguan publik terhadap lembaga survei.
Hingga hari pemilu, satu hal pasti: GOP tidak sedang bertaruh pada polling. Mereka bertaruh bahwa polling itu keliru.
sumber National security Journal











