Jurnalkitaplus – Kunjungan resmi Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, ke Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan strategis kedua negara. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, pembahasan tidak hanya mencakup kerja sama politik dan ekonomi, tetapi juga membuka peluang perdagangan pangan yang lebih luas di tengah dinamika ketahanan pangan kawasan.
Salah satu isu yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah usulan Thailand agar Indonesia mengimpor sejumlah komoditas pangan, seperti beras, daging, dan susu dari Negeri Gajah Putih. Sebagai timbal balik, Thailand menyatakan kesiapan untuk meningkatkan pembelian berbagai produk unggulan asal Indonesia sehingga hubungan dagang kedua negara dapat berjalan lebih seimbang.
Usulan itu muncul di tengah posisi Indonesia yang dalam beberapa bulan terakhir justru mengklaim mengalami peningkatan produksi pangan. Pemerintah bahkan sebelumnya menegaskan tidak akan membuka impor beras konsumsi sepanjang 2026 karena stok nasional dinilai mencukupi dan produksi dalam negeri terus menguat.
Presiden Prabowo juga pernah menyampaikan bahwa sejumlah negara kini mendatangi Indonesia untuk membeli beras di tengah krisis pangan global. Pemerintah menegaskan kepentingan petani domestik tetap menjadi prioritas dalam setiap kebijakan perdagangan pangan, sehingga setiap kerja sama harus mempertimbangkan kondisi produksi nasional.
Di luar isu pangan, kunjungan Anutin memiliki agenda yang lebih luas. Indonesia dan Thailand menandatangani rencana kemitraan strategis periode 2026–2030 yang mencakup penguatan kerja sama di bidang keamanan, ekonomi, investasi, hingga pertukaran budaya. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi landasan baru bagi hubungan bilateral kedua negara sebagai sesama kekuatan utama di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, kunjungan ini menunjukkan semakin besarnya posisi strategis di kawasan, terutama di sektor pangan. Sementara bagi Thailand, penguatan hubungan dengan Indonesia menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus mempererat kolaborasi ekonomi di tengah ketidakpastian perdagangan global. | FG12
Sumber: Kompas.com, Thai Rath, dan ANTARA.











