Membaca Pikiran Anda

Diduga Mata-mata, Seorang Peserta Magang Ditangkap di Markas NATO

Jurnalkitaplus.com – Otoritas Belgia menangkap seseorang yang menjalani magang asal Kanada, di markas militer NATO. Wanita tersebut diduga melakukan spionase dan menjadi anggota organisasi kriminal, mengutip Saudi Gazette (26/7). 

Kantor Jaksa Federal Belgia menjelaskan penyelidikan dimulai setelah dinas keamanan NATO memberi tahu intelijen militer Belgia terkait kekhawatiran mengenai tersangka tersebut. 

Pihak berwenang menahan wanita itu, yang diidentifikasi sebagai warga negara Kanada keturunan Tionghoa, hari Jumat setelah melakukan penggeledahan sehari sebelumnya di rumah dan tempat kerjanya di dalam markas militer NATO. 

Dia dicurigai melakukan spionase untuk kepentingan negara ketiga dan menjadi anggota organisasi kriminal,” kata para jaksa dalam pernyataan. 

Mereka tidak menyebutkan negara yang diduga menjadi tempat tersangka bekerja. 

Wanita itu magang di Supreme Headquarters Allied Powers Europe (SHAPE), komando militer operasional NATO di kota Mons, Belgia selatan, dekat perbatasan Prancis. 

SHAPE berfungsi mengawasi perencanaan, operasi, dan komando militer aliansi, sementara Pusat Keamanan Siber NATO juga berbasis di lokasi tersebut. 

Juru bicara SHAPE, Kolonel Martin L. O’Donnell, mengatakan tidak ada indikasi bahwa penyelidikan tersebut memengaruhi operasi aliansi. “Saat ini, tidak ada indikasi bahwa kesiapan operasional, pengaturan komando dan pengendalian, atau tugas-tugas yang sedang berjalan di NATO atau SHAPE terdampak secara negatif,” ujar O’Donnell. 

Baik Belgia maupun Kanada merupakan anggota aliansi NATO yang terdiri dari 32 negara, yang belakangan ini menyoroti Tiongkok sebagai tantangan keamanan strategis, di samping Rusia dan ketidakstabilan di Timur Tengah. 

Para pemimpin NATO menduga Beijing berupaya melemahkan tatanan internasional berbasis aturan, memperluas kemampuan militernya tanpa transparansi yang memadai, serta melakukan kampanye siber dan disinformasi yang bersifat destabilisasi. 

Tiongkok menolak tuduhan tersebut, dan mengatakan pengembangan militernya bersifat defensif. 

Penangkapan ini terjadi di saat yang sensitif bagi NATO, ketika aliansi tersebut menghadapi tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang mendesak sekutu-sekutu Eropa untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan mengambil peran yang lebih besar dalam keamanan regional. 

Pada tahun lalu sendiri anggota NATO sepakat untuk menaikkan pengeluaran terkait pertahanan menjadi 5% dari produk domestik bruto. Dengan alokasi 3,5% untuk kemampuan militer inti dan 1,5% untuk infrastruktur dan keamanan siber. (ALR-26)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *