Membaca Pikiran Anda

Dari Sumpah Menuju Karya: Menyongsong Seabad Indonesia Raya dari Al-Zaytun

Peringatan kebangsaan memperoleh makna ketika ingatan sejarah diterjemahkan menjadi pendidikan, kecakapan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda merumuskan persatuan di tengah perbedaan asal, organisasi, dan latar belakang. Dalam kongres yang sama, Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan Indonesia Raya melalui gesekan biola. Ikrar dan lagu bertemu dalam satu momentum: membayangkan Indonesia sebagai rumah bersama.

Sembilan puluh delapan tahun kemudian, pertanyaan kita bukan lagi sekadar bagaimana mengingat peristiwa itu. Pertanyaan yang lebih mendesak ialah bagaimana membuat persatuan bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah agenda kuliah umum dan lokakarya penyusunan kurikulum Politeknik Tanah Air di Ma’had Al-Zaytun, sebagaimana tercantum dalam poster kegiatan 28–29 Oktober 2026, dapat dibaca sebagai kesempatan untuk mempertautkan refleksi kebangsaan dengan rancangan pendidikan. Ini merupakan pembacaan atas kemungkinan maknanya, bukan penilaian bahwa tujuan tersebut telah tercapai.

Tanah air sebagai tanggung jawab

Dalam pandangan penulis, tanah air seharusnya tidak berhenti sebagai ungkapan yang diucapkan dalam upacara. Ia perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab yang dapat dikerjakan dan dinilai.

Mencintai tanah air dapat berarti kesediaan merawat tanah, menjaga air, menghasilkan pangan secara bertanggung jawab, mengembangkan pengetahuan, dan memastikan hasil kerja memberi manfaat kepada sesama. Nasionalisme semacam ini tidak menanggalkan simbol, tetapi memberi simbol itu isi.

Karena itu, nama “Politeknik Tanah Air” mengundang pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui pendidikannya?

Menurut penulis, jawabannya tidak cukup berupa tenaga terampil. Pendidikan juga perlu membentuk manusia yang memahami untuk siapa keterampilannya digunakan, apa akibat pekerjaannya bagi lingkungan, dan bagaimana keahliannya dapat memperkuat kehidupan bersama.

Kurikulum sebagai janji yang dapat diuji

Kata kunci menuju seabad Indonesia Raya adalah pembuktian.
Semangat kebangsaan perlu memperoleh bentuk dalam tujuan belajar, praktik, penilaian, dan pengabdian. Kurikulum dapat menjadi salah satu tempat untuk merumuskannya secara konkret.

Sebagai usulan, bukan laporan hasil lokakarya, penyusunan kurikulum Politeknik Tanah Air dapat mempertimbangkan lima arah berikut:

Kompetensi yang jelas dan dapat diperagakan.

Setiap program perlu menjelaskan pekerjaan apa yang mampu dilakukan lulusan, ukuran mutunya, serta cara menguji kemampuan tersebut.

Pembelajaran yang berangkat dari persoalan nyata.

Proyek mahasiswa dapat diarahkan pada kebutuhan masyarakat, misalnya pengelolaan air, pengolahan hasil pertanian, pemeliharaan peralatan, atau pengembangan usaha sesuai bidang studi yang kelak ditetapkan.

Etika sebagai bagian dari keterampilan.

Kejujuran pencatatan, keselamatan kerja, tanggung jawab lingkungan, dan penghormatan terhadap rekan kerja patut dinilai bersama kemampuan teknis.

Kerja sama yang melampaui lingkungan sendiri.

Ruang belajar perlu membuka perjumpaan dengan masyarakat, pelaku usaha, tenaga profesional, dan kelompok yang berbeda latar belakang.

Hasil yang dapat dievaluasi.

Rancangan kurikulum semestinya disertai ukuran keberhasilan dan mekanisme perbaikan, agar cita-cita tidak berhenti pada dokumen.

Usulan-usulan tersebut menempatkan kurikulum bukan sekadar sebagai daftar mata kuliah, melainkan sebagai janji pendidikan kepada mahasiswa dan masyarakat.

Nusantara sebagai ruang belajar bersama

Dalam bingkai tulisan ini, Nusantara bukan slogan tambahan, melainkan cara memandang keberagaman kehidupan sebagai ruang belajar bersama.

Persatuan tidak perlu dimaknai sebagai penyeragaman. Setiap daerah dapat menyumbangkan pengalaman, pengetahuan, dan pemecahan masalahnya. Yang perlu dibangun adalah kesediaan untuk saling belajar dan bekerja dengan standar tanggung jawab yang sama.

Semangat tersebut sejalan dengan arah ikrar 1928: mengakui satu tanah air dan satu bangsa, serta menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perbedaan tidak dihapus, melainkan dipertemukan dalam kesadaran bersama.

Bagi pendidikan, pesan itu dapat diterjemahkan menjadi budaya akademik yang terbuka terhadap kritik, menghargai bukti, dan tidak mengukur mutu gagasan hanya dari siapa yang menyampaikannya.

Dua tahun menuju seabad

Tahun 2028 akan menandai seabad Sumpah Pemuda dan momentum pertama diperdengarkannya Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda Kedua. Rentang 2026–2028 karena itu dapat dijadikan masa kerja yang terarah, bukan hanya hitung mundur menuju perayaan.

Sebagai agenda yang diusulkan, tahun pertama dapat digunakan untuk merumuskan profil lulusan, memetakan kebutuhan masyarakat, dan menyiapkan rancangan pembelajaran. Tahap berikutnya dapat diarahkan pada penyiapan pengajar, sarana praktik, kemitraan, serta evaluasi kesiapan sesuai ketentuan yang berlaku. Semua ini harus dibedakan dari klaim bahwa program atau lembaganya telah memperoleh persetujuan operasional.

Ukuran keberhasilan menjelang 2028 sebaiknya bukan hanya kemegahan acara. Ukurannya adalah apakah ada rancangan pendidikan yang semakin jelas, pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta manfaat yang mulai dirasakan.

Pada akhirnya, menyongsong seratus tahun Indonesia Raya berarti menghubungkan suara dengan tindakan. Jika pada 1928 para pemuda menyatakan kehendak untuk menjadi satu bangsa, generasi hari ini ditantang menunjukkan bagaimana persatuan itu menghasilkan kehidupan yang lebih bermartabat.

Dari Ma’had Al-Zaytun, harapan itu layak dirumuskan sebagai tugas, bukan pujian yang mendahului hasil: menjadikan pendidikan sebagai jalan agar cinta tanah air tumbuh menjadi kecakapan, tanggung jawab, dan karya bagi Indonesia. | AR11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *