Membaca Pikiran Anda

Gita Wirjawan: Keterbukaan dan Modernisasi Adalah Kunci Lompatan Peradaban Indonesia


INDRAMAYU — Bangsa Indonesia tidak akan bisa melompat menuju kemajuan peradaban tanpa keberanian untuk terbuka dan memodernisasi diri. Pesan krusial tersebut disampaikan oleh tokoh nasional sekaligus mantan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Peringatan Milad ke-80 Syekh Al-Zaytun yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Dalam orasinya, Gita menguraikan empat pilar utama yang harus menjadi perhatian bersama jika Indonesia ingin keluar dari jebakan middle-income trap dan tampil sebagai pemain utama di kancah global.

1. Sejarah Membuktikan: Keterbukaan Membangun Peradaban

Mengawali orasinya, Gita menyoroti bagaimana peradaban-peradaban besar di dunia dibangun di atas fondasi keterbukaan. Menurutnya, sikap inklusif dalam menyerap ilmu pengetahuan global—termasuk keberanian merangkul dan mengundang pakar-pakar internasional—merupakan katalis utama bagi lompatan kemajuan suatu bangsa. Indonesia tidak boleh mengisolasi diri jika ingin relevan di tingkat dunia.

2. Reformasi Pendidikan: Gurulah Kunci Utama

Bagi Gita, ruang kelas adalah titik awal transformasi bangsa. Beliau menegaskan bahwa guru merupakan figur sentral yang bertugas menanamkan ambisi, imajinasi, dan smart luck (keberuntungan cerdas) kepada generasi muda.

Oleh karena itu, reformasi kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru bukanlah sekadar opsi, melainkan prioritas mutlak yang harus diperjuangkan secara konsisten oleh pemerintah.

3. Transformasi Energi dan Penguasaan AI

Untuk menjadi negara modern, ketersediaan energi menjadi syarat mati. Gita mendorong peningkatan kapasitas daya listrik secara signifikan, dengan target minimum 30.000 MW per tahun. Menurutnya, ketersediaan listrik yang masif akan membuka jutaan lapangan kerja formal baru.

Langkah ini juga menjadi fondasi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemangku narasi dalam peta teknologi global, termasuk penguasaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence).

4. Menyuntikkan Seleksi ke Dalam Eleksi

Menjelang dinamika politik dan kepemimpinan masa depan, Gita memberikan catatan kritis terhadap proses demokrasi di tanah air. Beliau mengingatkan pentingnya menyuntikkan pilar seleksi—yang mencakup aspek etikabilitas, moralitas, dan intelektualitas—ke dalam proses eleksi (pemilihan langsung).

Budaya “mabuk sensasionalisme” di media sosial harus segera digeser menjadi budaya akuntabilitas demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh rakyat. | FG12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *