Jurnalkitaplus – Iran menolak proposal Oman yang menawarkan pembagian dua koridor pelayaran di Selat Hormuz dan mengajukan counter-proposal yang menuntut kontrol lebih luas atas jalur masuk serta sebagian jalur keluar, sumber diplomatik mengatakan. Keputusan Tehran ini menghambat upaya diplomatik untuk membuka kembali selat yang sejak Februari 2026 sebagian besar ditutup untuk kapal komersial.
Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang memimpin negosiasi, menolak konsep pembagian yang diusulkan Oman — yaitu koridor utara melalui perairan Iran dengan persetujuan Tehran dan koridor selatan melalui perairan Oman — dan menyatakan Traffic Separation Scheme internasional tidak akan dikembalikan. Tehran juga menegaskan bahwa negara ketiga tidak diizinkan melakukan operasi pengangkatan ranjau di perairan tersebut.
Langkah Iran memberi negara itu kekuatan veto efektif atas lalu lintas komersial karena kontrol atas jalur masuk dan sebagian jalur keluar memungkinkan Tehran mengatur atau memblokir transit kapal. Sumber diplomatik menilai posisi ini konsisten dengan strategi Iran yang memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar dalam ketegangan yang lebih luas dengan Washington.
Penolakan Iran memperumit kemungkinan dilanjutkannya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Tehran mengatakan tidak melakukan perundingan langsung dengan AS dan hanya menerima pesan lewat perantara, termasuk Oman. Presiden AS sempat menunda serangan udara pada 25 Juli karena adanya peluang diplomasi, namun mengancam akan melanjutkan serangan jika negosiasi gagal.
Gulf states, menurut laporan Reuters, menunjukkan kesiapan membayar jaminan keselamatan pelayaran kepada Iran sebagai bagian dari kemungkinan kesepakatan. Sementara itu, serangkaian serangan balasan Iran terhadap infrastruktur militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania telah memberi tekanan ekonomi bagi sekutu Teluk dan mempengaruhi dinamika politik regional.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global. Sejak penutupan sebagian pada Februari, Iran menerapkan sistem transit berjenjang yang memberi prioritas kepada kapal yang terkait dengan Rusia dan China, diikuti negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Tehran seperti India dan Pakistan. Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian pasar energi global dan menambah tekanan geopolitik di kawasan.
Impak domestik dan internasional dari kebuntuan ini termasuk gangguan rantai pasokan energi, fluktuasi harga minyak, dan penguatan posisi tawar Iran dalam negosiasi yang lebih luas tentang sanksi dan keamanan regional. Para analis mengatakan kompromi sulit tercapai sementara Iran mempertahankan tuntutan kontrol yang luas dan pihak lain menginginkan aturan navigasi internasional yang dipulihkan. | FG12