Jurnalkitaplus.com. Sumedang - Kegiatan silaturahim Lembaga Pemberdayaan Perempuan Mahardhika Putri atau LP2 yang mengusung semangat Berdoa, Berdaya, Berkarya, digelar pada Ahad (19/4/2026) di Pendopo Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang. Sebanyak 160 peserta hadir dari berbagai wilayah Jawa Barat Selatan, mulai dari Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, hingga daerah lainnya. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan doa dan tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza serta Mars Reksa Mahardhika Utama. Nuansa kebangsaan dan spiritualitas berpadu, mengawali pertemuan yang tidak sekadar seremonial, tetapi juga sarat makna kebersamaan. Memasuki inti kegiatan, perwakilan panitia Henny Rey menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah membersamai perjalanan LP2 selama bertahun-tahun. Ia menilai, kebersamaan yang terjaga menjadi fondasi penting hingga organisasi ini terus tumbuh dan memberi manfaat. Senada dengan hal tersebut Ketua LP2 Imas Komala menegaskan pentingnya peran perempuan di setiap zaman. “Perempuan bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi juga tiang penopang masyarakat dan negara. Di tengah era digital perempuan harus terus bertransformasi, mengenali potensi diri, dan berani melangkah lebih luas. Setiap perempuan memiliki hak untuk berhasil dan berkembang, bahkan menjangkau ruang yang lebih besar dari lingkup lokal menuju tingkat nasional.” “Semakin aktif dan berkontribusi, semakin besar pula peluang untuk memberi manfaat dan membangun kepercayaan di tengah masyarakat,” terang Imas. Ketua LP2 Sukabumi, Yati, menyoroti makna halal bihalal sebagai ruang untuk saling memaafkan, baik atas kesalahan yang disadari maupun tidak. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal mempererat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu Ketua LP2 dari Bogor, Lia, menekankan pentingnya menjaga ukhuwah antaranggota. Ia mengingatkan bahwa kekuatan komunitas terletak pada kemampuan anggotanya untuk saling menjaga, menguatkan, dan tetap terhubung dalam kebersamaan. Perwakilan Reksa Mahardhika Utama Nana Supriatna mengajak para peserta untuk menjalani kehidupan dengan kebahagiaan yang dilandasi keimanan. Ia mengulas kandungan QS At-Taubah ayat 112 yang menggambarkan ciri-ciri orang beriman: bertaubat, beribadah, memuji Allah, serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman membentuk pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Suasana hangat terasa ketika Sularno mengingatkan pentingnya menjaga hati dan tidak saling menyakiti, sekaligus menegaskan bahwa silaturahmi merupakan jembatan untuk mempererat kekeluargaan. Pembina Reksa Mahardhika Utama, Lukman Nulmunir, menyampaikan sambutan dengan menyapa perwakilan wilayah Jawa Barat Selatan yang hadir. Wilayah tersebut meliputi Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Timur, Yamughni, Garut, Tasikmalaya, Garut Selatan, Garut Utara, Sukabumi, Sukabumi Utara, Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bogor, hingga Kabupaten Bogor. Ia menegaskan bahwa seluruh anggota merupakan bagian dari estafet perjuangan yang diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Perempuan diharapkan dapat mengambil peran aktif sebagai penopang kehidupan sosial yang berdaya dan berkelanjutan. Pada sesi kajian, Oban Sobandi mengajak peserta untuk mendalami makna tiga surah penting dalam Al-Qur’an, yakni Ar-Rahman, Al-Fatihah, dan An-Nas. Ia mengingatkan bahwa Ar-Rahman menjadi pengingat atas limpahan nikmat Allah yang kerap terabaikan, sementara Al-Fatihah merupakan inti ajaran yang memuat pujian, penghambaan, dan permohonan petunjuk. Adapun An-Nas mengajarkan pentingnya berlindung kepada Allah dari segala bentuk keburukan, termasuk godaan yang mempengaruhi hati dan pikiran. Lebih jauh, ia memaparkan tiga konsep utama dalam tauhid, yakni rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah. Ketiganya menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, pemilik, dan tujuan penghambaan manusia. Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh perhatian sebagai jalan untuk memperoleh hidayah dan menguatkan keimanan. Ugas Yulianto mengingatkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui kapan ajal akan tiba. Setiap individu diharapkan tidak lengah dalam menjalani kehidupan, tetap berpegang pada arahan kebaikan, serta menjaga shalat sebagai fondasi utama keimanan. Muchtar Fatwa menyoroti makna halal bihalal sebagai momentum kembali kepada fitrah melalui saling memaafkan. Ia juga mengaitkan pertemuan ini dengan refleksi bulan April yang kerap dimaknai sebagai momentum perempuan. Dalam pandangannya, perempuan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam ranah domestik tetapi juga dalam pembangunan masyarakat. Dukungan terhadap keluarga, termasuk kepada suami, menjadi bagian dari kontribusi yang membangun keharmonisan. Ia juga menyinggung sosok Hypatia sebagai gambaran perempuan yang berilmu dan berpikir mendalam. Hal ini menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam bidang intelektual, sekaligus mampu berkontribusi dalam perkembangan pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai keimanan. Perjalanan Hypatia dapat disimak di Majalah Jurnalkitaplus edisi April 2026. Menjelang akhir acara, suasana semakin hangat dengan pembagian doorprize. Peserta dipanggil berdasarkan nomor undian, disertai momen bersalaman dan foto bersama. Salah seorang anggota LP2, Anita, mengatakan kepada JKP. “Alhamdulillah saya bergabung dengan LP2 ini mulai dari enam tahun yang lalu, dan alhamdulillahnya saya di sini merasakan terbantu banyak ilmu di sini juga dalam segi mungkin tadinya saya kurang bergaul sekarang jadi banyak bergaul lagi kenal sama ibu-ibu. Maju terus LP2 dan pantang mundur.” Bersama semangat kebersamaan, LP2 diharapkan menjadi wadah pemberdayaan perempuan yang tidak hanya kuat secara spiritual tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang tangguh, berakhlak, dan berdaya saing menghadapi tantangan zaman. Liputan : Wildan Nur Falah