Jurnalkitaplus - Perkumpulan Amanah Sport Sehat bersama (ASSB), adalah sebuah organisasi independent yang berbadan hukum, yang terhimpun dari orang-orang yang peduli akan kesehatan, peduli lingkungan dan kemanusiaan. Melalui dua divisi di bawahnya, yaitu divisi kesehatan dan lingkungan hidup, ASSB bergerak dan berkiprah untuk memastikan kesehatan seluruh anggotanya melalui penyuluhan-penyuluhan kesehatan, medical check up (MCU), vaksin flu bio, donor darah dan yang lainnya. Di bidang lingkungan hidup ASSB aktif melakukan penanaman-penanaman pohon (reboisasi) di lahan-lahan kritis, penyuluhan dan edukasi tentang lingkungan hidup, tata kelola pilah pilih sampah yang baik dan benar, serta kegiatan lainnya. Kegiatan-kegiatan atau event kesehatan dan lingkungan hidup ini terselenggara berkat kerjasama antara ASSB dengan lembaga pemerintah (dinas terkait), swasta, maupun perorangan, diantaranya, dinas kesehatan, klinik pengobatan, Kimia Farma, PT. Abbot, Perum Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) provinsi Jawa Barat, Pemerintahan Desa di beberpa wilayah Jawa Barat, serta beberapa orang yang secara pribadi mengajukan kerjasama pengelolaan lahan untuk pertanian. Melalui salah satu anggotanya, ASSB mendapatkan info untuk pengelolaan lahan carik desa yang cukup luas, bisa diproyeksikan untuk lahan pertanian, selebihnya untuk penanaman pohon atau penghijauan. Lahan tersebut berada di wilayah desa Cikarag, kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Pengurus ASSB bersama 2 divisi dibawahnya langsung berkoordinasi untuk merespon dan mengambil peluang ini, khususnya divisi lingkungan hidup yang mengurusi masalah lingkungan, alam, dan pertanian salah satu di dalamnya. Pertanian menjadi salah satu sektor yang concern digarap oleh divisi lingkungan hidup ASSB, karena menyangkut ketahanan pangan serta banyak keuntungan yang akan didapat baik prifit maupun benefit Ketika sektor ini serius digarap dan dikembangkan. Didukung oleh tim yang solid, serta expert dibidangnya masing-masing, divisi lingkungan hidup ASSB sepakat untuk mendarmakan waktu, ilmu, pemikiran dan ide-ide briliannya untuk menjaga, dan melestarikan alam melalui program-program penanaman pohon atau penghijauan, tata kelola sampah dan lingkungan yang baik, mengembangkan pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelaksana tekhnis dilapangan, yang harus diapresiasi. Dari sekian banyak komoditi yang akan ditanam dan dikembangkan di wilayah desa Cikarag, Malangbong, Garut ini, salah satu yang jadi pilihannya adalah kacang kedelai Edamame. Berbicara komoditi pertanian memang banyak, hanya saja kepastian pasar untuk produk hasil panen atau pasca panennya sangatlah penting, divisi lingkungan hidup ASSB sangat hati-hati sekali dalam pemilihan komoditi pertanian yang akan ditanam dan dikembangkan. Khusus untuk komoditi kedelai Edamame divisi lingkungan hidup ASSB sudah menjalin kerjasama dengan salah satu pabrikan pemasok komoditi tersebut untuk wilayah priangan dan jabodetabek. Edamame atau orang Indonesia menyebutnya kedelai sayur,atau lebih gampang disebut kedelai Jepang, adalah sebuah kacangkedelai muda yang masih berada dalampolong, yang ditemukan dalam masakan-masakanorang timur. Polong-polong tersebut direbus atau dikukus dan disajikan dengan garam. Di Indonesia, kedelai Edamame banyak ditanam di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Konsep penanaman kedelai Edamame di Kabupaten Jember adalah dengan kemitraan, di mana sebuah perusahaan dan para petani bekerjasama. Perusahaan menyediakan bibit dan membeli hasil tanam kedelai Edamame, dan para petani yang memiliki lahan akan menanam hingga panen kedelai Edamame. Berkenaan dengan penanaman kedelai edamame ini, perkumpulan Amanah Sport Sehat Bersama (ASSB) melalui salah satu divisinya yaitu divisi Lingkungan Hidup, menjalin kerjasama Trisinergi antara ASSB sebagai pelaksana tekhnis penanaman dan budi daya kedelai edamame, pemerintah Desa Cikarag, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, sebagai penyedia sekaligus pemilik lahan carik desa, dan PT. Bahtera Cipta Raga, sebagai penyedia bibit dan buyer untuk hasil panen Edamame. Melalui kerjasama Trisinergi ini diharapkan lahan carik desa Cikarag yang luasannya melebihi kawasan penduduk (info tidak resmi), yang sebagiannya belum dimanfa’atkan secara optimal, bisa diproyeksikan untuk pembukaan lahan pertanian yang lebih luas dan lebih produktif lagi. Salah satunya dengan ditanami kedelai Edamame, serta komoditi pertanian lainnya. Selain berorientasi pada keuntungan secara finansial (profit oriented), banyak manfa’at (benevit) juga yang bisa didapatkan, khususnya bagi masyarakat desa Cikarag, banyak masyarakat petani bisa dikaryakan, secara otomatis juga menjadi prestise bagi pemerintah desa Cikarag, karena melalui kerjasama ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakatnya, semakin luas lahan yang dibuka dan dikembangkan, semakin banyak juga lapangan kerja baru bagi masyarakat, berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang akan lebih meningkat.Ketersediaan lahan tidaklah cukup, namun tim LH ASSB harus memastikan status lahan tersebut seperti apa kedudukannya secara administrasi di pemerintahan desa Cikarag, mana saja letak dan batas-batasnya, bagaimana kualitas tanah, serta siapa saja penggarap di dekitar lahan yang sudah lebih dulu bertani, sehingga survei lahan menjadi hal utama dan pertama yang harus dilakukan oleh tim LH ASSB. Bulan Agustus 2024, pengurus ASSB bersama tim lingkungan hidup bersepakat untuk melakukan survei untuk mendapatkan data ril lahan yang akan dikembangkan, dari catatan administrasi di kantor desa Cikarag, hingga fisik lahan yang akan digarap dan dikembangkan untuk pengembangan dan budi daya kedelai Edamame. Setelah survei dilakukan oleh pengurus ASSB bersama divisi lingkungan hidup, yang sekaligus didampingi oleh Pembina pada saat itu, didapatilah data-data hasil survei sebagai berikut : Lahan tersebut berada di blok Pasir Panjang, statusnya adalah lahan carik desa Cikarag, dibuktikan dengan peta wilayah desa Cikarag secara untuh dan terdapat batas-batas wilayahnya dengan jelas (peta terlampir). Luas lahan yang akan digarap dan dikelola sekitar 2 hektar, dalam posisi lahan tidur, ditumbuhi semak-semak, pohon-pohon liar yang tidak punya nilai ekonomi, dan ilalang yang cukup tinggi, karena sudah ditinggalkan oleh penggarap sebelumnya lebih dari 6 tahun lalu. Di sekitar lahan yang akan dibuka sudah ada beberapa petani yang bercocok tanam, komoditi pertanian yang ditanam mayoritas cabe kriting, sebagian jahe gajah, strawberi dan sebagian kecil lainnya jenis palawija umur pendek seperti kacang merahdan kacang tanah, ada juga yang nanam rempah seperti Kapol Laga, dan perkebunan Kopi Arabica, khususnya lahan yang berbatasan langsung dengan lahan Perhutani. Kelayakan tanah ketika disurvei, dan diuji oleh tim divisi LH ASSB, ditest dengan alat ukur PH meter, menujukan kesuburan tanah sangat baik, terutama untuk tanaman palawija, kedelai Edamame khususnya. Ketersediaan air cukup melimpah, apalagi jika dipasang pipah atau selang dari sumber mata airnya langsung, air akan terus mengalir meskipun musim kemarau, apalagi di musim penghujan seperti saat ini. Tinggal dibuatkan bak penampungan induk yang besar di ujung lahan pertanian paling atas, selebihnya dibuatkan bak-bak penampungan yang cukup di bebetapa titik lahan pertanian untuk memudahkan penyiraman dan penyemprotan lahan pertanian. Setelah dilakukan survei lahan secara menyeluruh, selanjutnya tim LH ASSB, melakukan analisa secara mendalam, sekaligus memetakan (mitigasi) tingkat kekeliruan (margin eror), sehingga setelah dipetakan hingga kemungkinan resiko terburuk, diharapkan bisa meminimalisir tingkat kerugian yang kemungkinan terjadi. sebelum eksekusi pengerjaan dan mulai melakukan pengembangan serta budidaya komoditi pertanian kedelai Edamame. Secara prefentif kita bisa melakukan pencegahan dari kemungkinan terburuk yang dimaksud. Resiko-resiko yang mungkin terjadi setelah dianalisa dan dipetakan diantaranya; 1. Pemilihan bibit yang tidak berkualitas (tidak bersertifikat), tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan mengakibatkan gagal panen atau hasil panen tidak sesuai dengan harapan. 2. Pemilihan lahan yang asal, tidak dicek dengan alat yang memadai, apalagi jika tidak melakukan treatment khusus untuk lahan-lahan yang sudah jenuh dengan obat-obatan kima, akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman kurang baik, berdampak pada hasil panen tidak maksimal. 3. Pola pemeliharaan, pengaturan dan manajemen dari mulai persiapan lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan hingga panen, bahkan sampai pasca panen, harus disiplin dengan SOP (Standard Oprational Prosedure) yang sudah dibuat dan disepakati bersama, sesuai petunjuk perusahaan yang akan membeli hasil panen kedelai Edamame sesuai kontrak MoU, jika tidak siap-siaplah menderita kegagalan panen. Setelah melakukan analisa dan mitigasi resiko untuk penanaman kedelai Edamame, di blok Pasir Panjang Desa Cikarag Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut ini, selanjutnya divisi LH ASSB mengajukan permohonan izin penggunaan dan pengembangan lahan seluas 2 hektar tersebut untuk pertanian yang dimaksud. Melalui salah satu anggota divisi LH ASSB yang berdomisili di Desa Cikarag, ASSB mengajukan izin penggunaan lahan 2 hektar di blok Pasir Panjang, dan sudah diberikan izin oleh kasdes Cikarag, terhitung dari dokumen izin tersebut ditandatangani sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Namun secara perinsif bahwa lahan tersebut silahkan dipergunakan sebaik-baiknya untuk lahan pertanian dan palawija, selam pihak desa belum menggunakannya, dan jika pihak desa akan mempergunakannya, maka lahan tersebut secara suka rela harus dikembalikan pada pemerintah desa Cikarag, dokumen izin penggunaan lahan terlampirSetelah izin penggunaan dan pembukaan lahan pertanian seluas 2 hektar didapatkandari kepala desa Cikarag, pekan ke-4 Agustus pengurus ASSB bersama tim LH, langsung melakukan eksekusi pengerjaan lahan, dimulai dengan babat alas, pembersihan semak belukar, ilalang, dan pohon-pohon yang tidak punya nilai ekonomi ditebang dan dibersihkan dari lahan yang akan ditanami komoditi pertanian yang sudah dipersiapkan yaitu kedelai Edamame. Dalam pembabatan dan pembersihan lahan tersebut, divisi LH ASSB menggandeng petani setempat, yang sudah bertani lebih dulu di lokasi tersebut sebanyak 15 orang untuk ikut membantu dengan sistim kerja upah harian lepas, senilai Rp. 80.000 per hari dari jam 07:00 – 12:00 (ngabedug), selama 6 hari kerja dari Sabtu sampai dengan Kamis, gajihan tiap hari Kamis, hari Jum’at libur. Setelah sepekan babat alas dan pembukaan lahan, selanjutnya langkah berikutnya dilakukan pencangkulan lahan, sekitar 1,5 hektar lahan yang sudah dibuka langsung dicangkul. Untuk pencangkulan yang mengerjakan diambil 10 orang, karena untuk ini butuh tenaga khusus yang sudah terampil dalam melakukan pencangkulan, tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik dan benar, butuh tekhnik, pengalaman dan kekuatan khusus dalam mencangkul ini. Dua bulan penuh September-Oktober terus melakukan pencangkulan, dengan target lahan yang sudah dibabat alas dan dibuka seluas kurang lebih 1,5 hektar beres di akhir Oktober, karena persiapan menyongsong hujan di awal November. Sampai bulan November pekan ke-2 baru bisa menyelesaikan pencangkulan seluas 1,5 hektar. Setelah beres pencangkulan, tahap berikutnya secara bertahap lahan yang sudah dicangkul digarit (dibedeng/gulud) dengan lebar 1 m sekaligus penaburan pupuk postal (pupuk kohe ayam broiler) dicampur pupuk pabrikan yaitu Ponska atau pupuk mutiara, dilanjutkan dengan pemasangan mulsa (plastik silver khusus penutup media tanam) untuk mencegah tumbuh rumput liar dan gulma di bedengan lahan tanam. Setelah ditutup mulsa, media tanam dibiarkan antara 7-10 hari untuk optimalisasi menyebarnya nutrisi dari pupuk postal dan pupuk pabrikan juga, membantu mempercepat media tanam dan tanah menjadi subur dan siap ditanami kedelai Edamame. Setelah sepekan pemasangan mulsa sebanyak 2 rol, berikutnya melakukan penanaman Edamame. Kegiatan penanaman Edamame secara perdana dilakukan oleh pengurus ASSB bersama divisi LH ASSB pada pekan ke-4 November, menghabiskan bibit sebanyak 5 kg untuk luasan lahan sekitar 2.500 m. Masih di pekan yang sama, setelah beres penanaman tahap pertama, dilanjutkan dengan pemasangan mulsa 2 rol berikutnya, untuk penanaman tahap berikutnya. Memasuki pekan pertama bulan Desember 2024, dilakukan penanaman Edamame untuk 2.500 m berikutnya, menghabiskan bibit sebanyak 5 kg. Total bibit Edamame yang sudah ditanam sebanyak 10 Kg, dengan luas lahan sekitar 5.000 m. Masih di pekan pertama Desember, setelah selesai penanaman 10 kg kedelai Edamame, kembali mempersiapkan untuk penanaman 10 kg bibit berikutnya dengan luasan 5.000 m, sehingga diharapkan sampai pekan kedua bulan Desember, penanaman Edamame luasannya genap 1 hektar dengan total bibit yang ditanam sebanyak 20 kg. Estimasi keuntungan hasil panen , dengan asumsi 5.000 m luasan lahan ditanami bibit 10 kg akan menghasilkan 3 ton, maka untuk 1 hektar lahan, akan menghasilkan 6 ton Edamame, dengan harga 12.000 per kg diterima oleh pabrik sesuai kontrak MoU, maka total pendapatan hasil panen 6 ton (6000 kg) x 12.000 = 72.000.000 bruto, belum dikurangi operasional dan modal. Setelah menyelesaikan penanaman 20 kg bibit secara bertahap, untuk luasan lahan 1 hektar, dengan masa tanam yang relatif cukup singkat selama 70 hari, tinggal memastikan perawatannya baik dan lancar sesuai SOP, melalui pemupukan organik cair pertama 7 hari setelah penanaman, berikutnya 15 hari setelah tanam, menghabiskan 1 liter POC untuk luas lahan 1 hektar sampai panen, dilanjut dengan penyiangan, serta penyemprotan pengendalian hama tanaman dengan insektisida nabati organik 1 liter untuk luasan yang sama 1 siklus tanam Edamame. Setelah 70 hari, atau 2 bulan lebih 10 hari, Edamame siap panen perdana, dan secara bertahap sesuai pola tanam yang dilakukan secara bertahap pula tiap pekan panen, karena penanamannya pun dilakukan tiap pekan. Cara panen kedelai Edamame ada yang dipetik langsung dari pohonnya di kebunnya langsung, dipanen yang sudah layak secara bertahap, ada juga yang dilakukan secara serentak dengan cara dipotong semuanya, kemudian dipetik serentak semuanya secara bersamaan. Untuk pemanenan memerlukan ketelitian dan ketepatan dalam memilih kedelai Edamame yang layak panen, yaitu yang masih muda tapi sudah berisi polong, sehingga perlu edukasi khusus bagi yang akan ikut panen Edamame ini, khususnya bagi yang belum berpengalaman. Atau pemula. Untuk pemula karena perlu edukasi khusus (pembelajaran) serta harus ekstra hati-hati dalam panen Edamame ini, sehingga hasil panen rata-rata yang didapat kisaran 20 kg, sementara untuk yang sudah berpengalaman bisa mencapai 30 kg per hari. Estimasi kebutuhan pekerja khusus komoditi kedelai Edamame ini untuk luasan 1 hektar lahan dengan dua tahap pemanenan per 5,000 m sekitar 50 orang pekerja, untuk mendapatkan hasil rata-rata 1 ton per hari, sehingga untuk luasan 5.000 m dengan asumsi hasil panen 3 ton, bisa diselesaikan dalam waktu 3 hari, dan untuk 1 hektar bisa diselesaikan pemanenan dalam waktu sepekan. Karena membutuhkan tenaga yang cukup banyak untuk panen serentak kedelai Edamame ini, kita bisa memberdayakan (mempekerjakan) ibu-ibu warga masyarakat desa Cikarag, karena ibu-ibu biasanya lebih teliti dan telaten dalam pekerjaan seperti ini, selain itu mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan buat kebutuhan keluarganya. Setelah panen kedelai Edamame untuk tahap panen per 5.000 m, dengan estimasi 3 ton bisa diselesaikan dalam waktu 3 hari, sehingga tiap 3 hari kita bisa mengirimkan hasil panen ke perusahaan penampung komoditi Edamame sesuai kontrak sebanyak 3 ton, dan 6 ton untuk sepekan. Namun jika hasil panen melebihi kesepakatan kuota 3 ton untuk 5.000 m, atau 6 ton untuk 1 hektar, kelebihan produksi hasil panen tetap akan diterima oleh perusahaan, karena diktum tersebut dituangkan juga dalam surat perjanjian kerjasama antara ASSB dengan PT. Bahtera Cipta Raga. Selain itu berdasarkan informasi dari pihak perusahaan, kebutuhan kedelai Edamame sesuai deman pasar yang biasa dipasok oleh perusahaan masih terbuka luas, dan kuota kebutuhan pasar belum terpenuhi semua, artinya peluang untuk terus mengembangkan dan memperluas lahan yang linier dengan hasil panen terus meningkat dan bertambah, akan bisa diserap dan diterima oleh perusahaan. Mengingat komoditi Edamame hasil panen yang bisa diterima perusahaan cukup ketat dari sisi kualitas produknya, secara visual keelai Edamame yang dikirimkan ke perusahaan, tidak boleh ada cacat atau lecet sedikitpun, warna harus seragam hijau fresh, tidak boleh ada bercak bahkan layu sedikitpun, yang mengakibatkan warna berubah, sehingga quality control (qyusi) sangatlah menentukan, untuk itu perlu petugas khusus yang bisa melakukan hal ini. Sortasi adalah tahap berikutnya setelah selesai panen, diawasi langsung oleh petugas qyusi untuk memastikan kualitas komoditi Edamame yang dihasilkan dan kemudian dikirim ke perusahaan sesuai spek. Adapun diluar grad 1 yang dikirim ke perusahaan, grad 2 dan 3 juga masih bisa diterima oleh perusahaan, namun dengan harga di bawah nilai kontrak, kita bisa mensiasati dengan mengolahnya menjadi produk yang tetap berkualitas, karena meskipun cangkang polongnya cacat karena gesekan jadi hitam misalnya, isinya atau polongnya tetap bagus dan mulus, sehingga tetap bisa diolah menjadi produk turunan yang punya nilai jual yang lebih tinggi. Ditulis oleh : Usep Saepuloh (NPM 125150011) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon